Posted in Peradaban

Pemimpin itu bernama Syafruddin

    28 Februari, 96 tahun yang lalu negeri ini menyaksikan kelahiran seorang tokoh yang tidak bisa dilepaskan dari catatan sejarah perjuangan dan kepemimpinan bangsa Indonesia. Tokoh itu adalah Syafrudin Prawiranegara atau biasa dipanggil Pak Sjaf. Beberapa peristiwa sejarah Indonesia telah menempatkan beliau sebagai salah satu aktor penting. Diantara peristiwa itu adalah pendirian Pemerintah Darurat Republik Indonesia ketika beliau menjabat menteri kemakmuran (1948-1949), peristiwa sanering (pemotongan nilai uang rupiah menjadi setengahnya) ketika menjabat sebagai menteri keuangan(1950) serta peristiwa PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) ketika beliau menjadi aktivis partai masyumi (1958). Sesuatu yang spesial dari beliau adalah komitmennya dalam penegasan peran kaum muslimin dalam perjuangan pemerintahan Indonesia.

Peran beliau dalam menjaga keberlangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia sangat menonjol ketika terjadi agresi militer Belanda II dimana pemimpin-pemimpin Indonesia saat itu yang berkedudukan di Yogyakarta harus menyerah kepada pasukan Belanda. Kabar bahwa Republik Indonesia sudah bubar pun santer disiarkan oleh Belanda. Pak Sjaf sendiri saat itu sedang berada di Bukittinggi. Insting beliau sebagai pahlawan Indonesia terlihat saat berinisiatif untuk mengambil alih mandat kepemimpinan dari Soekarno-Hatta dengan membentuk PDRI. Belakangan diketahui bahwa pemerintahan di Yogyakarta telah mengirimkan pesan kawat berupa penyerahan mandat kepada Syafruddin untuk membentuk pemerintahan darurat, namun pesan itu tidak pernah diterima oleh Syafruddin. Suatu hal yang cukup menarik untuk dicermati yaitu bahwasanya Syafruddin memiliki keberanian untuk tidak menyatakan diri menyerah pada Belanda walaupun pemimpin Indonesia, Soekarno-Hatta, telah tertawan, bahkan beliau berkata bahwa negara Indonesia tidak hanya tergantung pada Soekarno-Hatta walaupun kedua pemimpin itu sangat berharga. Izzah Indonesia telah berhasil terselamatkan atas usaha Pak Sjaf dan kawan-kawan.

Pak Sjaf adalah tipikal pemimpin yang karismatik dan dicintai semua pihak yang dipimpinnya. Ketika PDRI dibentuk, terlihat dukungan serta antusiasme yang sangat tinggi dari masyarakat Sumatra khususnya daerah Bukittinggi. Tidak hanya itu, pemimpin besar tentara Indonesia, Panglima Soedirman, pun menyatakan dukungan penuh terhadap PDRI, bahkan ketika Belanda mengajak berunding dengan pihak Indonesia, Pak Dirman tidak percaya terhadap wakil Indonesia yang didatangkan dari pihak tawanan (Soekarno-Hatta), beliau mengganggap bahwa perwakilan dari PDRI lebih pantas untuk mewakili Indonesia di meja perundingan.

Indonesia saat ini membutuhkan sosok sekaliber Pak Sjaf untuk membuat gebrakan dalam memperbaiki keadaan bangsa. Menilik dari ghirah Pak Sjaf yang berkobar-kobar untuk tidak mau menyerah terhadap pasukan Belanda, hal ini layaknya seperti sebuah cermin terbalik yang terjadi di Indonesia kontemporer dimana negeri ini sangat tergantung dengan pihak-pihak asing yang mengintervensi berbagai bidang. Ketergantungan negara terhadap World Bank, IMF, Amerika Serikat dan berbagai pihak asing pasti akan sangat memukul telak beliau jika saat ini masih hidup.

Pembelajaran lain dari seorang Syafruddin adalah mengenai ketegasan beliau dalam melakukan langkah penyelamatan ekonomi Indonesia ketika menjadi menteri keuangan pada kabinet Hatta (1950). Beliau berani mengambil langkah yang tidak populer yaitu melakukan sanering, pemotongan nilai mata uang dengan nominal 5 rupiah ke atas menjadi setengah dari nilai sebelumnya. Suatu kebijakan yang kontroversial namun harus dilakukan mengingat pemotongan nilai mata uang itu merupakan dampak dari re-strategi perekonomian Indonesia. Saat itu pemerintah Indonesia sedang gencar-gencarnya dalam melakukan pembangunan nasional pasca kemerdekaan dan agresi militer Belanda. Hal ini membuat persediaan uang yang ada sebagian besar lari ke pos pembangunan sehingga stock uang yang dialirkan pada pos kesejahteraan rakyat menjadi berkurang drastis. Keadaan ini membuat Soekarno memutuskan untuk mencetak uang sebanyak-banyaknya bagi rakyat sehingga terjadi inflasi besar-besaran di dalam negeri.

Bandingkan dengan para pemimpin negeri akhir-akhir ini yang cenderung membuat kebijakan yang menyenangkan bagi rakyat namun bersifat pragmatis (hanya menguntungkan dalam jangka pendek namun merugikan bagi jangka panjang). Hal itu mungkin semata-mata karena mereka takut menghadapi demonstrasi serta cemoohan dari masyarakat awam. Kekurangefektifan pemerintahan yang merupakan efek domino dari krisis kepemimpinan nasional yang kurang tegas telah membuat permasalahan dalam negeri yang seharusnya bisa diselesaikan dengan cepat menjadi semakin berlarut-larut.

Pak Sjaf juga merupakan mubaligh hebat. Beliau adalah tipikal muslim sejati. Dengar apa yang dikatakannya ketika menjadi ketua aktif Korps Mubaligh Indonesia, “ Saya ingin mati di dalam Islam. Dan ingin menyadarkan, bahwa kita tidak perlu takut kepada manusia, tetapi takutlah kepada Allah”. Keaktifan beliau di Partai Masyumi semakin membuktikan bahwa ia ingin melaksanakan perintah Islam secara integral termasuk dalam bidang politik. Namun sangat disayangkan, beliau menjadi korban dari prinsip tidak jelas dari Soekarno yang menginginkan Indonesia menganut prinsip Nasakom sesuai ideologinya. Pak Sjaf dengan masyuminya yang tidak setuju dengan konsep itu akhirnya dibubarkan. Akhir-akhir ini buah dari proses perjuangan panjang politik Islam dalam negara Indonesia telah menuai hasil dari bibit-bibit yang telah Pak Sjaf tanamkan. Partai Islam telah mengambil peran yang cukup strategis dalam sistem perpolitikan nasional. Namun itu belum mencerminkan hasil yang sesungguhnya dari perjuangan politik Islam. Sebagai catatan, pada pemilu tahun 1955, yang dianggap sebagai pemilu paling jujur dan adil dalam sejarah Indonesia, partai Islam telah sanggup meraih 43 persen suara, suara terbesar dari Masyumi. Kini, jumlah pemilih yang memilih partai yang memperjuangkan syariat Islam hanya sekitar 14 persen, masih jauh dari pencapaian tahun 1955.

Namun penentu kebijakan sejarah telah membelokkan beberapa fakta termasuk mendistorsi peran Pak Sjaf dalam sejarah bangsa dari seorang pahlawan dalam agresi militer belanda II menjadi seorang yang dianggap pemberontak bangsa. Peristiwa PRRI (dimana Pak Sjaf menjadi perdana menteri dalam kabinetnya) dianggap sebagai pemberontakan berbahaya yang ingin merebut kedaulatan bangsa Indonesia. Sebagian pihak menganggap bahwa kenyataannya tidak demikian. Terjadinya PRRI adalah efek dari ketidakadilan pemerintah saat itu yaitu mengenai kesenjangan antara pusat dan daerah yang cenderung mengutamakan kepentingan pemerintah pusat. Demikian pulalah yang terjadi akhir-akhir ini. Pemberontakan di berbagai wilayah luar Pulau Jawa kerapkali ditafsirkan sepihak oleh pemerintah. Boleh jadi bahwa pemberontakan itu sebagai akumulasi ketidakadilan pemerintah dalam pembagian hak antara pusat dan daerah. Sekali lagi, perjuangan Pak Sjaf telah menjadi cerminan dalam kehidupan Indonesia kontemporer.

Secara keseluruhan spirit yang ditunjukkan Pak Sjaf telah mengilhami kita untuk selalu belajar dari sejarah. Salah satunya adalah semangat yang ditunjukkannya bahwa kita jauh lebih baik dibandingkan negeri lain. Dengar statementnya saat membentuk PDRI berikut, “karena serangan tiba-tiba itu mereka telah berhasil menawan Presiden, Wakil Presiden, Perdana Menteri, dan beberapa pembesar lain. Dengan demikian, mereka menduga menghadapi suatu keadaan negara republik Indonesia yang dapat disamakan dengan Belanda sendiri pada suatu saat negaranya diduduki Jerman dalam Perang Dunia II, ketika rakyatnya kehilangan akal, pemimpinnya putus asa dan negaranya tidak dapat ditolong lagi.Semoga pemimpin bangsa ini terutama para pemimpin Islam bisa mangambil ibrah dari keteladanan beliau.Wallahu’alam bishawab   

Advertisements

Author:

Hanya seseorang ... Yang selalu berharap ... Untuk bisa terus memperbaiki diri ... Memperbaiki orang lain ... dan memperbaiki bangsa ini ...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s