Posted in Peradaban

Social Responsbility Mahasiswa Kontemporer

Oleh : Mohamad Yanuar Erdian K.R.

Masyarakat dan Mahasiswa Masyarakat Indonesia sebagian besar adalah masyarakat yang masih berada di bawah garis kemiskinan. Hal ini sangat berdampak pada kesempatan dalam mendapatkan pendidikan. Jangan pikirkan mengenai pendidikan tinggi, untuk bisa tamat SD saja bukan perkara mudah bagi sebagian besar rakyat. Dilihat dari data statistic yang bersumber dari BPS (Badan Pusat Statistik), sejumlah 60 % rakyat Indonesia diketahui lulusan SD-kebawah, 19 % lulusan SMP dan 18 % lulusan SMA, sedangkan sisanya adalah orang-orang yang beruntung melanjutkan sampai perguruan tinggi. Mahasiswa berarti sebagian kecil golongan yang cukup beruntung untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Suatu hal yang seharusnya tidak lalu lewat begitu saja. Sebagai golongan yang diberi amanah dari rakyat Indonesia untuk menikmati pendidikan (dana subsidi pendidikan tinggi negeri berasal dari rakyat), mahasiswa seharusnya mempunyai social responsibility. Suatu bentuk pengembalian utang mereka kepada masyarakat. Seperti kata kakek dari Peter Parker dalam film Spiderman “great power not comes alone, but it comes with great responsibility.”, potensi besar mahasiswa adalah sesuatu yang perlu dipertanggungjawabkan, bukannya dibanggakan.

Tindakan konkret mahasiswa di tahun 98
Salah satu bentuk social responsibility telah ditunjukkan oleh mahasiswa pada saat detik-detik jatuhnya era orde baru pimpinan soeharto. Keadaan bangsa yang terus-menerus memburuk secara makroekonomi tidak bisa dilihat kasat mata oleh rakyat biasa. Begitu pula dengan keadaan sebagian besar pejabat yang semakin merajalela dengan korupsi dikarenakan saat itu belum ada lembaga yang mempunyai komitmen tegas terhadap korupsi (kurang lebih seperti KPK pada saat ini). DPR pun tidak menjalankan tugas yang semestinya sebagai government control. Parahnya, sebagian masyarakat tidak terlalu cerdas dan peka terhadap masalah-masalah ini. Mereka pun tidak terlalu ambil pusing terhadap keadaan bangsa kontemporer saat itu, asal bisa beli sembako, tak ada masalah. Di tengah keadaan ‘adem-ayem’ yang sewaktu-waktu bisa menjadi bom waktu kehancuran bangsa Indonesia, mahasiswa menjadi satu-satunya golongan yang mempunyai pemahaman serta kesadaran permasalahan bangsa. Permasalahan yang antara lain membengkaknya utang negara. Nilai rupiah yang terus terkoreksi dari hingga sampai ke nilai 16.000 rupiah per dollar Amerika. Bom waktu yang ternyata meledak pada tahun 1998 itu pun menjadikan mahasiswa sebagai pemeran utama kejatuhan orde baru.

Peran Mahasiswa Saat Ini

Walaupun masa-masa era orde baru sudah terlewati, lembaga-lembaga government control seperti KPK telah bekerja sesuai harapan, keadaan makroekonomi yang mulai membaik, serta transparansi pemerintah pada masyarakat telah berjalan, bukan berarti peran mahasiswa sebagai kaum intelektual kritis menjadi surut. Pergerakan mahasiswa, dalam hal ini ‘turun ke jalan’, memang tidak sesemarak tahun 98 namun kini beralih ke social responsbility lain. Kepedulian mahasiswa saat ini tidak lagi sentralistik di masalah politik dan pemerintahan saja, namun didistribusikan pada bidang ilmu masing-masing. Pencerdasan mengenai masalah kebangsaan pada masyarakat telah diambil alih oleh partai politik, yang menjamur sejak pemilu 1999, dan secara eksplisit telah cukup mampu menggantikan upaya pencerdasan oleh mahasiswa. Namun tidak semua peran mahasiswa dalam pencerdasan masyarakat bisa digantikan oleh partai politik. Di luar masalah kebangsaan, peran mahasiswa masih sangat dibutuhkan. Masalah-masalah misalnya dalam bidang ekonomi, teknologi, seni, tata pergaulan internasional dan lain-lain membutuhkan ahli-ahli di bidangnya.
Disini saya ingin membahas dua hal yang seharusnya dijalankan oleh mahasiswa, yaitu :

  1. Menjadi petugas Knowledge transfer dari dunia kampus menuju luar kampus dalam upaya mencerdaskan masyarakat menengah ke bawah.
  2. Membentuk Community Development untuk memacu dinamisasi kehidupan masyarakat kelas menengah ke bawah.

Kehidupan Kampus Sebagai Prototype Masyarakat Ideal.
Kalau boleh dikatakan, kampus merupakan tempat paling nyaman bagi orang yang mempunyai idealisme tinggi dalam kehidupan. Semua tatanan kehidupan dalam kampus sangat menunjang bagi terwadahkannya opini-opini mahasiswa. Bahkan sebagian mahasiswa mengaku kaget ketika mereka telah lulus dan terjun langsung ke masyarakat. Idealisme, nilai-nilai, serta budaya yang selama ini dipegang teguh di dalam kampus menjadi tidak bisa ditemukan lagi. Hal ini tidak serta merta bisa dikatakan sebagai bukan kesalahan mahasiswa. Dalam hal ini mahasiswa bertanggungjawab terhadap transfer budaya, idealisme serta nilai-nilai yang selama ini hanya dipendam saja di dalam kampus tanpa ada upaya untuk “menularkan” ke masyarakat. Akibatnya, ketika mahasiswa yang terjun ke masyarakat nantinya, justru merekalah yang kehilangan idealisme mereka.

Knowledge Transfer
Berkaitan dengan opini kampus sebagai contoh ideal masyarakat di masa depan, maka diperlukan upaya knowledge transfer dari kampus pada masyarakat. Sekali lagi, peran mahasiswa sebagai elemen utama dalam kehidupan kampus dinilai sebagai pihak yang paling mampu untuk menyelenggarakan knowledge transfer. Sebenarnya upaya masyarakat kampus untuk lebih keluar telah terlihat, misalnya saja pada kerjasama saling menguntungkan antara pemerintah Kota Bandung dengan ITB untuk membuat pembangkit listrik tenaga sampah beberapa waktu yang lalu. Di satu sisi, Pemerintah Kota Bandung bisa mengatasi permasalahan sampah serta mendapat pemasukan dari energi listrik yang dihasilkannya, di sisi lain, ITB bisa mengadakan bahan riset gratis bagi penelitiannya. Namun kerjasama yang dilakukan oleh elit ITB dengan masyarakat luar biasanya kurang bisa menyentuh langsung masyarakat menengah ke bawah. Disinilah peran mahasiswa sebagai kaum menengah, yang bisa sekaligus menjangkau kalangan bawah dan elit, menjadi sangat vital. Berbagai kegiatan seperti penyuluhan teknologi tepat guna seakan menjadi lebih mengena terhadap rakyat kecil. Tidak hanya hal-hal teknis yang bisa kita berikan untuk mentransfer ilmu pengetahuan kepada masyarakat. Saya melihat, justru hal yang terpenting adalah memberikan pemahaman serta mengubah pola pikir masyarakat terhadap permasalahan kontemporer yang ada di sekitar mereka. Seperti contohnya, permasalahan SUTET (Saluran Udara Tegangan Tinggi) beberapa waktu yang lalu, yang diketahui masyarakat adalah bahwa SUTET merugikan bagi penduduk yang tinggal atau mempunyai sawah di bawah saluran tersebut. Disini peran mahasiswa, dalam kasus ini mahasiswa elektro arus kuat, dibutuhkan untuk memberikan penjelasan yang sebenarnya kepada masyarakat awam. Begitu pula dalam kasus-kasus social yang menjadi konflik di masyarakat. Seperti kasus penutupan lokalisasi “Saritem”, masyarakat sekitar memandang hal itu sebagai suatu langkah pemerintah yang mematikan pendapatan mereka, mereka belum bisa melihat sisi negative yang jauh lebih besar dampaknya daripada keuntungan yang didapat.

Community Development (ComDev)
Fenomena yang entah kita sadari atau tidak, komunitas mahasiswa di sekitar kampus-kampus secara tidak langsung telah membentuk sebuah community development tersendiri bagi masyarakat sekitar tempat tinggal mereka. Disinilah kelebihan mahasiswa daripada pemerintah yang seharusnya menjadi “pelayan” masyarakat. Mahasiswa tahu apa yang diperlukan oleh masyarakat, mengetahui cara untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tersebut, serta memiliki kemampuan dan keinginan untuk mewujudkannya. Satu contoh yang bisa kita lihat sehari-hari di sekitar kampus ITB misalnya, yaitu pembentukan TPA –TPA (Taman Pendidikan Al-Quran) di masjid-masjid kecil di pemukiman/kos-kosan dekat kampus, misalnya di daerah taman hewan, cisitu, siliwangi, pelesiran, dan lain-lain. Atau di sekitar kampus IPB misalnya, terdapat asrama mahasiswa yang membuat taman bacaan bagi anak-anak di sekitarnya. ComDev semacam ini umumnya tidak direncanakan sebelumnya, namun secara alami terbentuk karena kebutuhan masyarakat akan tenaga terpelajar serta kesadaran mahasiswa mengenai perlunya social relationship untuk meningkatkan acceptability masyarakat sekitar terhadap kehadiran mereka. Walaupun hal ini tumbuh secara alami namun paling tidak telah membuktikan adanya suatu ikatan memberi dan menerima antara mahasiswa dan masyarakat luar kampus yang, menurut saya, menjadi fitrah dalam hubungan antara keduanya.

Penutup : Harapan Besar Masyarakat pada Mahasiswa
Pernah suatu saat saya bersama teman-teman melakukan bakti sosial dengan terjun langsung ke masyarakat. Tempatnya di daerah kampung Lio, kawasan kumuh di daerah Depok. Saya sempat berbincang-bincang dengan salah satu penduduk di daerah tersebut. Penduduk tersebut mengaku bahwa mereka sangat senang sekali ketika ada mahasiswa yang datang ke tempat mereka. Menurut mereka, biasanya para mahasiswa datang dengan memberi sesuatu pada mereka, entah itu bingkisan sembako, baju bekas, ataupun kupon pengobatan gratis. Beda dengan apabila yang datang adalah petugas kelurahan, biasanya para petugas itu hanya mencatat dan meneliti keadaan disana, setelah itu tidak ada hal konkret yang bisa dinikmati oleh masyarakat. Penggambaran di atas saya rasa cukup membuktikan bagaimana harapan besar masyarakat terhadap mahasiswa sebagai golongan yang berpihak pada mereka. Walaupun hanya sedikit yang bisa diberikan oleh para mahasiswa, namun paling tidak mereka jauh lebih konkret daripada petugas kelurahan. Satu hal terakhir yang tidak kalah penting adalah bahwa apa yang kita berikan pada masyarakat saat ini sangat jauh lebih kecil daripada pengorbanan mereka atas kejahiliyahan yang dilakukan oleh alumni-alumni perguruan kita yang sekarang menjadi petinggi-petinggi negara. Walaupun kita tidak mempunyai kemampuan apa-apa untuk menggugat para petinggi itu, paling tidak kita memiliki tekad dan komitmen untuk terus mempertahankan idealisme kita membela rakyat kecil dan nantinya diharapkan kita bisa memberi jauh lebih besar daripada apa yang bisa kita berikan sekarang.

Author:

Hanya seseorang ... Yang selalu berharap ... Untuk bisa terus memperbaiki diri ... Memperbaiki orang lain ... dan memperbaiki bangsa ini ...

One thought on “Social Responsbility Mahasiswa Kontemporer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s