Posted in renungan, resensi buku

Pelangi Nurani

Karya : Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia dkk

Sungguh kumpulan cerita yang boleh saya katakan sangat menakjubkan. Mengisahkan hikmah yang luar biasa dalam setiap episode kehidupan. Dirangkai dengan pemilihan kata yang sungguh-sungguh ajaib oleh mbak helvy dan mbak asma. Setiap kisah yang tertulis membuat saya malu, takjub, bangga, rindu,dll.

Salah satu cerita yang membuat saya sangat tersentuh adalah bagian yang berjudul “sumbangan”. Seperti ini cerita lengkapnya.

Saya adalah seorang petugas kesehatan yang bertugas di sebuah desa terpencil Tanjung Agung, Padang Ulak Tanding, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu. Desa tersebut terletak sekitar 50 km dari ibukota kabupaten. Separuh jalannya adalah jalan aspal kasar yang jarang dilalui kendaraan bermotor.

Selain bertugas di puskesmas pada pagi hingga siang hari, saya menyempatkan diri untuk mengajar anak-anak sekitar mengaji pada malam hari. Ini juga berangkat dari keprihatinan saya terhadap kondisi masyarakat di sini. Jumlah penduduk desa yang semuanya muslim berkisar 841 jiwa, tetapi kesadaran beragama sangatlah memprihatinkan. Sebagai gambaran, dengan penduduk sebanyak itu, jamaah masjid shalat jum’at tak pernah mencapai 15 orang! Sedang shalat maghrib dan Isya’ paling hanya tiga orang!

Perjudian dalam bentuk sabung ayam sangat membudaya di sini, hingga hampir di tiap rumah penduduk selalu ditemui ayam jago yang terikat di depan rumah, siap untuk diadu sewaktu-waktu. Kegiatan ini akan semakin semarak saat musim kopi. Apalagi saat harga kopi melambung seperti sekarang.

Karena hampir seluruh penduduk desa adalah petani kopi, maka melonjaknya harga kopi sampai berkali-kali lipat sangat terasa pengaruhnya. Dari mulai bermunculannya berbagai merk kendaraan bermotor, sampai bermunculannya parabola di banyak rumah di desa yang luasnya hanya sekitar 12 km persegi itu. Tingkat pendidikan rata-rata penduduk yang sebagian besar hanya sampai SD, membuat budaya menabung sangat langka disini. Bahkan mereka cenderung konsumtif.

Namun kemakmuran yang dirasakan hampir semua penduduk desa tiada menjangkau satu-satunya masjid di daerah itu. Masjid mungil berukuran 10×10 m itu semakin merana. Selain jumlah jamaahnya yang tak kunjung meningkat, keadaan bangunannya juga semakin memprihatinkan. Atap seng yang mulai bocor sana-sini dan rendah tanpa plafon, lantai semen yang kasar, tembok yang rapuh dan meretak. Sangat kontras bila dibandingkan dengan ‘tetangga masjid’ yang parabolanya tinggi kokoh melampaui tinggi kubah masjid.

Saya dan teman yang juga seorang guru SD di sana merasa terpanggil untuk melakukan sesuatu. Setelah melewati berbagai proses, kami mendapat izin atau tugas dari kades dan imam masjid untuk menarik sumbangan dari para penduduk guna rehabilitasi masjid. Dan itu semua kami lakukan tanpa pamrih.

Dengan bismillah, kami berdua berkeliling desa sepulang kerja untuk menarik sumbangan sukarela tersebut. Ternyata susah sekali mencari donatur yang mau menyumbang lebih. Yang kaya sekalipun memasang mimik keberatan. Yang tak punya duit lah, yang mau hajatan lah, yang habis ditipu, banyak sekali alasan mereka.

Di sebuah rumah besar berlantai keramik mahal, kami disambut seorang bapak berumur 40 tahun. Kami dipersilakan duduk di sofa lembut yang seumur-umur baru sekali itu saya temui. Sementara dari ruang tengah rumah yang sangat besar itu terdengar jelas suara televisi yang tentu saja berparabola. Pajangan di ruang tamu saja tampak mewah dan menawan ala luar negeri. dalam hati saya dan teman berharap orang kaya ini akan menyumbang banyak. Ya, bagaimanapun dana yang sudah terkumpul masih sangat minim.

Alangkah terkejutnya kami, ketika bapak tersebut secara halus menolak memberi sumbangan. Ya, bahkan tidak sepeser pun! Kami beranjak pergi dan hanya bisa berdoa agar Allah membukakan pintu hati bapak tersebut suatu hari nanti.

Hari ke tujuh, atau hari terakhir dari rencana pengumpulan dana, uang yang masuk baru sekitar satu juta rupiah dari dua juta lebih anggaran yang dibutuhkan. Kami pun sampai di sebuah gubuk yang amat reot yang bahkan membuat kami ragu, apakah gubuk tersebut dihuni orang. Kami memutuskan untuk melewati rumah yang satu ini sebab walau rumah ini berpenghuni, rasa-rasanya kami tak tega untuk meminta sumbangan. Namun, kami ingat pesan imam masjid untuk tidak melewati satu rumah pun.

Sebelum kami mengetuk, seorang perempuan dengan baju yang berwarna pudar dan lusuh telah membukakan pintu. Di kedua sisinya ada dua orang anak kecil dengan baju bertambalan. Penuh keramahan ia mempersilakan kami masuk ke dalam rumah biliknya yang beralas tanah. Sebelum kami memberitahu apa pun, dalam genggamannya telah dipersiapkan uang untuk sumbangan.

Betapa terharunya kami. Apalagi ketika kami ketahui kemudian bahwa wanita itu adalah seorang janda miskin. Anak-anaknya adalah anak yatim. Orang seperti mereka lah yang berhak atas zakat, infaq, atau sedekah. Maka mata kami berkaca-kaca menatap, emnghitung dan menerima lipatan-lipatan uang yang sebagian kumal dan recehan itu. Keikhlasan perempuan itu membuat kami merasa inilah sumbangan paling berharga yang kami terima minggu ini.

Sepanjang perjalanan pulang, saya dan teman saya lebih banyak diam. Takjub akan apa yang baru saja kami alami. Sejak saat itu pula saya tak lagi mencoba mereka-reka besar sumbangan dari keadaan fisik seseorang. Bukankah perempuan ‘paling kaya’ di desa itu telah mengajarkannya ?

Sutanto dan Helvy Tiana Rosa

Begitulah. Saya merasa tersindir dengan kisah itu. Keikhlasan dalam memberi yang selama ini, jujur saja, belum saya miliki sepenuhnya. Akankah saya mampu seperti wanita itu ? Kualitas dalam memberi tidak diukur dari besarnya yang kita beri namun dilihat dari berharganya sesuatu yang kita beri. Benarkah kita sudah rela memberi sesuatu yang paling berharga dari diri kita untuk orang lain ?

Dan banyak lagi kisah yang inspiratif seperti kisah mantan pejuang PETA yang kini menjadi pemulung, lalu seorang wanita muallaf yang perjalanan hidupnya begitu hebat, kematian seorang sahabat yang begitu sempurna, ukhuwah Islamiyah yang begitu mengharukan, serta kebesaran takdir Allah SWT.

Anda harus membacanya. Dijamin memperkaya kedalaman nurani anda dan semakin membuka pemahaman anda mengenai arti hidup

Author:

Hanya seseorang ... Yang selalu berharap ... Untuk bisa terus memperbaiki diri ... Memperbaiki orang lain ... dan memperbaiki bangsa ini ...

One thought on “Pelangi Nurani

  1. 002. JZ33BMK – 2009
    Nama Mulkan eryadi
    Nama Udara Power
    Call sign JZ 33BMK
    Frekuensi 143400
    Daerah Kep.Riau
    Wilayah Batam
    Lokal Batam BATU AJI(1)
    Alamat rumah Perum Puri Buana Indah blok l no 17
    Kode pos 29433
    No. Telpon 0778 612022
    No. HP 0813 64 134 134
    Alamat Email mulkanling@yahoo.co.idThThis e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it is e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
    Komentar Salam 51-55, Semoga Sehat S’lalu Jaya di Udara dan Di Delta.
    Comments (1) >> feed tolong rawat dan jaga kampung ini yaa terimakasih atau info dari kukak wang dusun muara telita anak ling ku lalame yam batam ling rak ita parak putanding wasssalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s