Posted in leadership, Peradaban

Pilkada Jabar

Minggu, 13 April 2008

That’s our last chance … itu menurut gw … paling nggak buat 5 tahun ke depan

DKI Jakarta dan Jawa Barat, di dua provinsi paling terpelajar itu PKS mempunyai massa paling banyak. Karena memang penduduk di daerah DKI dan Jabar relatif sudah mengetahui mana yang patut dipilih dan mana yang tidak. Sedangkan penduduk provinsi lain, mohon maaf, masih terbelakang dibandingkan dua provinsi itu. Termasuk provinsi asal gw, Jawa Timur.

Di dua provinsi itu, kita, eh salah ding, kalian masih mempunyai peluang untuk memenangkan pilkadanya. Sayangnya, di provinsi pertama, DKI, kalian sudah kalah duluan. Jadi harapan satu-satunya ya tinggal Jawa Barat. SO … that’s our last chance

Kemenangan di Jabar ini akan sangat berarti untuk pilkada-pilkada di daerah lain. Karena jika ternyata calon dari kalian menang dan ternyata juga mampu menjadi pemimpin yang sukses, maka daerah lain akan melihat bahwa pemimpin dari PKS ternyata juga memiliki kompetensi dan kredibilitas yang baik, gk cuman ngandalin jujur doang. Rakyat, khususnya dari kaum terpelajar, akan mempertimbangkan untuk mengangkat calon dari PKS di daerah masing2. Kalau kalah gmn ? Ya akhirnya gk ada kesempatan buat kalian untuk unjuk gigi di pemerintahan (paling nggak buat 5 tahun ke depan)

Ditinjau dari 2009. Ada apa tuh ??? Kayak gk tau aja, pemilu Presiden bung, lagi2 ini menjadi last chance kita.

Then … mari kita analisis peluang kalian di Jabar …

Dari 3 kandidat yg ada, serius, kalian yg jagoannya paling kurang populer di telinga rakyat. Yang paling populer adalah kandidat no.2, itu pengamatan kasar saya di Bandung (dan memang dibuktikan oleh penelitian teman saya di Fisip Unpad). Baru yg no.3, itupun juga kurang populer, banyak yg belum tau nama gubernurnya sendiri. Nah, no.3, itu kayak calon yg baru turun dari langit, konstituen lebih mengenal “calon dari PKS” daripada seorang Ahmad Heryawan. Embel2 ketua PUI (Persatuan Umat Islam) pun kurang begitu kena, lha wong ketua MUI aja mungkin juga nggak banyak yang tau.

Nah justru kekuatan no.3 adalah pada wakil gubernurnya. Kepopuleran Dede Yusuf seolah-olah mampu menutupi kekurangpopuleran Ahmad Heryawan. Artis gitu lho, ibu2 mana yg gk kenal dan gk gemes dan gk pengen nyubit yg ujung2nya yg gk pengen nyoblos mukanya yg ganteng (ya … gk seganteng gw sih hehe …) di kertas suara. Dan gw kira pihak PKS pun cukup sadar dengan kondisi ini (Ahmad Herywan hanya akan dipilih oleh kader saja-red), maka dari itu mereka menonjolkan Dede Yusuf sebagai sarana marketing pasangan no.3. Dan itu terlihat dari kampanye mereka di media televisi dimana Dede jauh lebih sering terlihat daripada Heryawan (emang dasarnya artis sih ya). Dua hal lagi yg cukup memperkuat posisi mereka adalah

  • Singkatan (gk tau emang ini kebetulan pas atau emang disengaja) HADE (Heryawan-Dede) yg memang sunda bgt. Bagi pembaca non SUnda, Hade itu artinya ‘baik’ dalam bahasa Indonesia.
  • Isu yg mereka bawa bahwa mereka satu-satunya yg muda, yg lain mah udah tua2. Maka dari itu, yang mudalah yg memimpin (setuju ini awak)

Bagaimana dengan peluang kandidat lain ?

Pada dasarnya, lagi2, yg paling populer adalah Agum Gumelar. Dengan pengalamannya sebagai mantan menteri macem2, mantan calon wakil presiden, dan mantan ketua KONI, komisaris mobile-8 (yg satu ini gk ngaruh2 amat sih), Agum telah berhasil tampil sebagai salah satu putra kebanggaan Jawa Barat di level nasional. Beliau telah berhasil menanamkan apa yg namanya trust and respect ke masyarakat Jabar. And that is the one and only requirement to be a leader … . Sayangnya, kelemahannya justru terletak pada wakil gubernurnya yg (klo kata Dede Yusuf) “Masih ada tembelan2 incumbent-nya …”

Kalo kandidat no.3 ini boleh saya bilang sebagai kandidat yg paling lemah secara teoritis. Kenapa saya bilang teoritis ?

  • Karena beliau adalah calon incumbent, artinya pihak yg sedang berkuasa sekarang, dan memang pihak yg sedang berkuasa ini sangat mudah di attack karena ‘beberapa’ kegagalannya pada pemerintahan sebelumnya.
  • Dengan calon wakil gubernur Iwan Sulanjana yg saya kira juga kurang mengakar selain di Demokrat, saya kira akan menjadi titik lemah pasangan ini.

Itu tadi secara teoritis. Jangan lupakan kalo ini Indonesia bung. Teori gk selamanya sama kayak praktek, bahkan mungkin sedikit teori yg sama dengan praktek. Apalagi di bidang sosial. Incumbent kan pasti punya black power yg gk diketahui sama siapapun. Ya, kita2 sih harusnya husnudzon aja sih (lah … barusan su’udzonastaghfirullah … maaf kang dani) …

Kesimpulannya, saya coba sedikit memprediksi. Sebenarnya saya nggak suka sih dengan hasil prediksi saya ini. Gubernur terpilih adalah no.2, baru setelah itu diikuti no.3, dan yg terakhir incumbent no.1

That’s All … semoga prediksi saya salah … tapi kan saya harus moderat juga …

Ya Allah menangkanlah kami di setiap medan peperangan dimana kami terus menyebut nama-Mu …

dan kalahkanlah kami jika kami tidak menyebut nama-Mu di medan perang itu …

Allahu Akbar ….

note:gw sengaja nulis pasa hari-H biar gk para pemilih gk terpengaruh sama tulisan gw …

Author:

Hanya seseorang ... Yang selalu berharap ... Untuk bisa terus memperbaiki diri ... Memperbaiki orang lain ... dan memperbaiki bangsa ini ...

2 thoughts on “Pilkada Jabar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s