Posted in Peradaban

Hukum Ciptaan Manusia Tidak Pernah Sempurna

Aneh memang, di satu sisi sedikit banyak saya sudah merasa jemu dengan isi berita yang melulu tentang KPK-Polisi-Anggodo-Tim8 namun di sisi lain rasa penasaran saya tentang siapa yang benar dan siapa yang salah selalu saja menuntun tangan saya yang memegang remote TV untuk mencari berita tentang itu. Semakin banyak input yang saya dapat semakin bingunglah saya, dan semakin penasaran pula.

Saya memang bukan orang hukum, dan saya pun tidak pernah mau sekolah di hukum maupun dihukum, namun rasa kemanusiaan saya merasakan bahwa pak bibit dan pak candra adalah orang2 baik yang menjadi korban. Btw, tetap saja mereka salah dan harus diproses secara hukum. Berbagai kejanggalan terutama dikeluarkan oleh Polri namun tetap saja mereka tidak bisa salah secara hukum (lagi2 hukum).

Suatu logika yang aneh ketika seseorang yang sudah mengaku memberi uang (suap) tidak ditangkap dan dijadikan tersangka sedangkan yang belum pasti menerima, dijadikan tersangka.

Ada yang bilang bahwa tim 8 yg ditugaskan untuk membantu menyelesaikan masalah ini merupakan tim yang bisa merusak tatanan hukum. Ini juga tidak ngerti saya, padahal dalam tim tersebut terdapat orang2 yang jagoan hukum. Kalo toh tim 8 merusak tatanan hukum, harusnya orang2 itu tidak mau menjadi anggota tim 8.

Lantas siapa yang mau disalahkan dengan kesemrawutan ini? Apakah anggota DPR yang buat undang2? atau pelaksana undang2? toh mereka semua sama, manusia, walaupun tidak ada niat untuk melakukan kesalahan, namun kemungkinan mereka melakukan kesalahan tetap saja ada. Dan parahnya, ada saja pihak2 yang memanfaatkan sisi kemanusiaan mereka demi urusan perut, bukan mengisi perut tapi menggembungkan perut (ini tidak ada hubungannya dengan anggodo yang perutnya memang gembung)

Mau tidak mau ini adalah konsekuensi logis dari konsensus tak tertulis kita untuk membuat dan melaksanakan sendiri hukum bukan melaksanakan hukum yang sudah pasti benar dari Allah swt yang tertulis dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Ntahlah, saya berbicara seperti ini seakan-akan sudah melaksanakan hukum Allah swt, padahal sangat jauh dari apa yang diharapkan.

Semoga saja bapak-bapak yang mengusut terhadap polemik negeri ini diberi petunjuk oleh Allah swt. Amiin

Posted in Peradaban

Ekonomi Dunia dan Indonesia akhir-akhir ini

Wuih … udah lama gak ngeblog judulnya langsung berat …

Secara, saya bukan orang yang mempunyai keahlian di bidang ekonomi namun sedikit banyak memiliki minat dalam bidang ekonomi makro …

Suatu hal yang menjadi topik hangat pada diskusi-diskusi di sekeliling kita adalah mengenai krisis ekonomi dunia. Hal ini jauh lebih ramai daripada krisis ekonomi yang telah terjadi di Indonesia media 98-an lalu. Mengapa saya sebut demikian? Alasannya jelas, krisis ini telah menimpa berbagai negara di belahan dunia tidak hanya negara yang memiliki ‘tradisi krisis’ saja melainkan juga negara-negara yan dikenal kuat secara ekonomi. Kejadian ini mungkin akan mengingatkan kita pada kejadian The Great Depression yang pernah terjadi pada tahun 20-an, tepatnya saya lupa, suatu peristiwa yang tidak pernah dilupakan oleh masyarakat Amerika yang katanya saat itu hingga menyebabkan angka pengangguran di AS mencapai 33%. Continue reading “Ekonomi Dunia dan Indonesia akhir-akhir ini”

Posted in Peradaban, resensi buku

Novel De Winst

Saat itu, sehabis pulang dari kerja praktek, saya menyempatkan diri mampir di toko buku BBC di jalan pahlawan. Nggak ada target mau beli buku tertentu, hanya ingin menghabiskan uang saja. Setelah sampai disana, saya melihat-lihat dan tertarik untuk membeli beberapa buku. Jika diitung-itung, mungkin ada lebih dari sepuluh buku yang ingin saya beli, namun mempertimbangkan uang yang ada cuma beberapa lembar saja, saya akhirnya memprioritaskan untuk membeli dua buah buku, yang pertama adalah buku tentang Hidayat Nur Wahid sedangkan yang kedua adalah Novel De Winst.

Kedua buku tersebut saya beli karena alasan kekaguman. Buku pertama saya beli karena sudah sejak dulu saya mengagumi Pak Hidayat, sosok ketua MPR yang bersahaja. Sedangkan buku kedua saya beli karena kekaguman saya terhadap pengarangnya yaitu Mbak Afifah Afra, alasan kedua adalah saya teringat sayembara penulisan opini yang diselenggarakan oleh penerbit dari novel ini, sedangkan alasan ketiga saya tertarik dengan tulisan yang ada pada sampul depan novel ini “Sebuah Novel Pembangkit Idealisme”.

Kali ini saya akan membahas mengenai novel De Winst, tidak akan menuliskan resensinya, namun hanya memberi tau sekelumit mengenai mengenai novel ini agar pembaca penasaran dan ikut membelinya .. hehe.

sampul de winstNovel De Winst menggunakan latar belakang Indonesia zaman prakemerdekaan, novel ini menceritakan mengenai perjuangan kaum-kaum aristrokat yang perduli terhadap nasib kaum-kaum buruh. Walaupun bercerita mengenai nasional dan perjuangan, novel ini tidak meninggalkan sisi keremajaannya dengan mencantumkan roman-roman cinta antar tokohnya, roman cinta yang saya sebut sebagai “roman cinta kelas atas”, roman cinta kaum-kaum terpelajar.

Dari sisi knowledged yang diperoleh, novel ini memberi gambaran pada kita mengenai sistem ekonomi kapitalis dan sosialis secara brief (mungkin karena novel, jadi gambaran tentang dua sistem itu tidak dijabarkan dengan luas). Selain itu, dengan membaca novel ini kita bisa mendapatkan gambaran mengenai kehidupan kraton di jawa serta adat-istiadat yang mereka anut.

Satu hal penting yang dapat kita ambil teladannya dari tokoh-tokoh pada novel ini adalah keberanian-keberanian mereka dalam menegakkan keadilan demi kesejahteraan rakyat Indonesia terutama kaum buruh, layak dijadikan referensi bagi kaum muda saat ini dalam menumbuhkan semangat nasionalisme.

Pokoknya gak bakalan nyesel deh baca nih buku …

Posted in leadership, Peradaban, pilkada

Tentang Pak Taufikurahman

Jujur aja, postingan kali ini berhubungan dengan akan diadakannya pilkada kota Bandung. Memang sih, saya tidak memiliki hak untuk memilih di kota ini, namun bukan berarti bahwa saya tidak peduli sama sekali dengan keadaan kota yang telah saya tinggali hampir 3 tahun belakangan ini. POstingan ini salah satu buktinya.

Stiker Pak TaufikSaya mengenal Pak Taufikurahman semenjak masuk di asrama PPSDMS, kebetulan beliau menjadi ketua regional asrama tersebut. Pertama kali menjejakkan kaki di asrama PPSDMS, saya langsung disambut oleh ceramah dari beliau yang saya pikir cukup renyah dan berisi dan saya ketahui setelahnya bahwa ternyata memang begitu pembawaannya beliau. Setiap ceramah selalu disampaikan dengan tenang namun tegas.  Suatu kombinasi antara “tidak membuat orang yg mendengarkan bosan” dan “memasukkan idealisme-idealisme ke pendengar”.

Pak Taufik adalah orang yang membuat saya cukup takjub dengan realita kesederhanaan apalagi jika melihat latar belakang beliau sebagai dosen ITB. Hampir setiap minggu beliau datang ke asrama PPSDMS untuk membagi-bagi ilmunya kepada kami para penghuni asrama ini. Yang saya saluti adalah setiap datang ke asrama, beliau selalu memakai kijang “bututnya” atau memakai sepeda motor, suatu hal yg saya pikir sangat langka di kalangan dosen-dosen apalagi dosen senior.

Selain itu, Pak Taufik yang saya kenal adalah orang yang memiliki aktivitas segudang. Banyak sekali amanah yang beliau emban. Mulai dari dosen, ketua Asasi, ketua LSM Greenlife Society. Namun banyaknya amanah tersebut tidak mengurangi kepedulian beliau terhadap asrama tercinta ini. Beliau selalu menyempatkan hadir jika ada acara asrama yang memerlukan ketua regional, bahkan tak jarang beliau memberikan bantuan berupa sumbangan dana untuk acara-acara yang kami propose.

Saya pikir Pak Taufik adalah sosok yang tepat untuk memimpin Bandung. Masalah utama kota ini terletak pada perubahan drastis image kota yang sebelumnya paris van java menjadi kota yang identik dengan sampah. Sebagai dosen biologi sekaligus LSM, saya pikir Pak Taufik mampu mengembalikan fitrah Bandung sebagai Paris Van Java. Kepakaran beliau dalam bidang lingkungan diharapkan mampu memperbaiki kebobrokan-kebobrokan pemerintah sebelumnya dalam mengelola lingkungan.

Finally, semoga Allah SWT memberikan yang terbaik bagi kota Bandung tercinta ini. Amien

Posted in Peradaban

BBM naik

Yah, memang pemerintah akhirnya harus tegas dalam memutuskan kebijakannya (walaupun sejak dulu memang beraninya tegas cuma buat rakyat kecil, gk berani tegas terhadap penjahat kelas kakap macam koruptor BLBI)

Jumat, 23 Mei 2008 pukul 24.00

Waktu di atas menjadi saksi dalam salah satu sejarah Indonesia seperti yang dideklarasikan oleh SBY saat peringatan Seratus Tahun Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei lalu yaitu “Indonesia Bisa!!!”. Ya, Indonesia bisa. Indonesia bisa semakin terpuruk, Indonesia bisa semakin miskin, eh salah ding … bukan Indonesianya tapi rakyat Indonesia. Emang ada apa ?

Terhitung sejak tanggal di atas, harga BBM resmi naik yaitu bensin menjadi Rp 6000,- lalu solar Rp.5500,- sedangkan minyak tanah Rp.2500,-

Implikasinya, harga-harga bahan pokok akan sesegera mungkin mengikuti kenaikan harga BBM. Dampaknya memang masyarakat kecil yang akan paling merasakan. Yah, semoga saja, daftar korban yang meninggal bunuh diri karena himpitan ekonomi tidak akan bertambah lagi.

Posted in leadership, Peradaban

Am I Handsome ?

Sebelumnya saya mengucapkan selamat kepada pasangan Ahmad Heryawan – Dede Yusuf (HADE) yang telah terpilih secara quick count sebagai gubernur jabar periode 2008-2013. Semoga benar-benar bisa amanah dalam mengemban amanah. Jujur, adil, rakyat sejahtera, kehidupan harmonis, panjang umur (lho???), sakinah mawaddah warahmah (lho lagi???), semoga diterima amalan-amalannya dan diampuni dosa-dosanya (janji deh, ini lho yg terakhir)

Lalu apa hubungannya dengan title di atas ? Bukannya mau mbanding-mbandingin kegantengan diri sendiri dengan kegantengan pasangan HADE, kalo itu sih jujur saya akui saya kalah kalo dibandingkan dua orang di atas. Kalah jelek maksudnya … hehe … Continue reading “Am I Handsome ?”

Posted in leadership, Peradaban

Pilkada Jabar

Minggu, 13 April 2008

That’s our last chance … itu menurut gw … paling nggak buat 5 tahun ke depan

DKI Jakarta dan Jawa Barat, di dua provinsi paling terpelajar itu PKS mempunyai massa paling banyak. Karena memang penduduk di daerah DKI dan Jabar relatif sudah mengetahui mana yang patut dipilih dan mana yang tidak. Sedangkan penduduk provinsi lain, mohon maaf, masih terbelakang dibandingkan dua provinsi itu. Termasuk provinsi asal gw, Jawa Timur.

Di dua provinsi itu, kita, eh salah ding, kalian masih mempunyai peluang untuk memenangkan pilkadanya. Sayangnya, di provinsi pertama, DKI, kalian sudah kalah duluan. Jadi harapan satu-satunya ya tinggal Jawa Barat. SO … that’s our last chance Continue reading “Pilkada Jabar”