Posted in Peradaban, resensi buku

Novel De Winst

Saat itu, sehabis pulang dari kerja praktek, saya menyempatkan diri mampir di toko buku BBC di jalan pahlawan. Nggak ada target mau beli buku tertentu, hanya ingin menghabiskan uang saja. Setelah sampai disana, saya melihat-lihat dan tertarik untuk membeli beberapa buku. Jika diitung-itung, mungkin ada lebih dari sepuluh buku yang ingin saya beli, namun mempertimbangkan uang yang ada cuma beberapa lembar saja, saya akhirnya memprioritaskan untuk membeli dua buah buku, yang pertama adalah buku tentang Hidayat Nur Wahid sedangkan yang kedua adalah Novel De Winst.

Kedua buku tersebut saya beli karena alasan kekaguman. Buku pertama saya beli karena sudah sejak dulu saya mengagumi Pak Hidayat, sosok ketua MPR yang bersahaja. Sedangkan buku kedua saya beli karena kekaguman saya terhadap pengarangnya yaitu Mbak Afifah Afra, alasan kedua adalah saya teringat sayembara penulisan opini yang diselenggarakan oleh penerbit dari novel ini, sedangkan alasan ketiga saya tertarik dengan tulisan yang ada pada sampul depan novel ini “Sebuah Novel Pembangkit Idealisme”.

Kali ini saya akan membahas mengenai novel De Winst, tidak akan menuliskan resensinya, namun hanya memberi tau sekelumit mengenai mengenai novel ini agar pembaca penasaran dan ikut membelinya .. hehe.

sampul de winstNovel De Winst menggunakan latar belakang Indonesia zaman prakemerdekaan, novel ini menceritakan mengenai perjuangan kaum-kaum aristrokat yang perduli terhadap nasib kaum-kaum buruh. Walaupun bercerita mengenai nasional dan perjuangan, novel ini tidak meninggalkan sisi keremajaannya dengan mencantumkan roman-roman cinta antar tokohnya, roman cinta yang saya sebut sebagai “roman cinta kelas atas”, roman cinta kaum-kaum terpelajar.

Dari sisi knowledged yang diperoleh, novel ini memberi gambaran pada kita mengenai sistem ekonomi kapitalis dan sosialis secara brief (mungkin karena novel, jadi gambaran tentang dua sistem itu tidak dijabarkan dengan luas). Selain itu, dengan membaca novel ini kita bisa mendapatkan gambaran mengenai kehidupan kraton di jawa serta adat-istiadat yang mereka anut.

Satu hal penting yang dapat kita ambil teladannya dari tokoh-tokoh pada novel ini adalah keberanian-keberanian mereka dalam menegakkan keadilan demi kesejahteraan rakyat Indonesia terutama kaum buruh, layak dijadikan referensi bagi kaum muda saat ini dalam menumbuhkan semangat nasionalisme.

Pokoknya gak bakalan nyesel deh baca nih buku …

Posted in resensi buku

Ketika Cinta Bertasbih

 

Wahhh ini dia yang ditunggu-tunggu. Akhirnya datang juga, Suatu karya dari Habiburrahman El-Shirazy (penulis novel yang karyanya mulai melejit lewat Ayat-Ayat Cinta – AAC) bisa dinikmati oleh pembaca setia novel-novelnya. Novel baru itu beliau beri judul :

KETIKA CINTA BERTASBIH

Untuk selanjutnya akan kita singkat dengan KCB. Sebuah novel dwilogi pembangun jiwa, begitu embel-embel yang kang abik berikan pada sampul depan di novel ini. Dan memang secara keseluruhan dari saya sendiri merasa setiap membaca karya-karya kang abik, terdapat sebuah pandangan baru (entah itu sebuah enlightment atau memang hanya tersihir secara sesaat).

 

Continue reading “Ketika Cinta Bertasbih”

Posted in renungan, resensi buku

Pelangi Nurani

Karya : Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia dkk

Sungguh kumpulan cerita yang boleh saya katakan sangat menakjubkan. Mengisahkan hikmah yang luar biasa dalam setiap episode kehidupan. Dirangkai dengan pemilihan kata yang sungguh-sungguh ajaib oleh mbak helvy dan mbak asma. Setiap kisah yang tertulis membuat saya malu, takjub, bangga, rindu,dll.

Salah satu cerita yang membuat saya sangat tersentuh adalah bagian yang berjudul “sumbangan”. Seperti ini cerita lengkapnya.

Continue reading “Pelangi Nurani”

Posted in resensi buku

La Tansa, Male Cafe seri I dan II

Serial ini bercerita tentang lima orang remaja, kader dakwah, yang mencoba membuat gebrakan baru dalam berdakwah yaitu membuka kafe khusus cowok dengan nama La Tansa (artinya : janganlah engkau lupa).  Obyek dakwah mereka tentu saja para lelaki yang masih ammah. Lima orang tersebut (fely,hari,adjie,jimmy,dan arief) mempunyai latar belakang dan watak yang berbeda-beda dimana dengan cerdas Mbak Nurul mampu meracik karakter dari kelimanya dengan alur cerita yang seru, rame,dan lucu. Fely yang pentolan grup nasyid justice voice, hari yang merupakan komikus ulung, Continue reading “La Tansa, Male Cafe seri I dan II”